Kamis, 27 September 2012

aneka ragam kebudayaan dan masyarakat



BAB 1
PENDAHULUAN

A.    Latar belakang
Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa sansekerta yaitu buddhayah yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Menurut ilmu Antropologi, “kebudayaan” adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar.
Dalam aneka ragam kebudayaan dan masyarakat, terdapat konsep suku bangsa, konsep daerah kebudayaan, daerah kebudayaan di Amerika Utara dan Amerika Latin, sub-sub kawasan geografi di oceania, daerah kebudayaan di Afrika dan Asia, suku-suku bangsa di Indonesia, ras, bahasa, dan kebudayaan yang akan kita bahas dalam makalah ini.













BAB II
PEMBAHASAN
ANEKA RAGAM KEBUDAYAAN DAN MASYARAKAT

A.    Konsep Suku Bangsa
1.      Suku Bangsa
Setiap kebudayaan yang hidup dalam suatu masyarakat baik berwujud sebagai komunitas desa, kota, sebagai kelompok kekerabatan, atau kelompok adat yang lain, bisa menampilkan suatu corak khas yang terutama terlihat oleh orang di luar warga masyarakat yang bersangkutan. Berdasarkan atas corak khususnya tadi, suatu kebudayaan dapat dibedakan dari kebudayaan lain.
Pokok perhatian dari suatu deskripsi etnografi adalah kebudayaan-kebudayaan dengan corak khas seperti itu. Istilah etnografi untuk suatu kebudayaan dengan corak khas adalah ”suku bangsa” (dalam bahasa inggris disebut ethnic group dan bila diterjemahkan secara harfiah “kelompok etnik” ). Namun di sini digunakan istilah “suku bangsa” saja karena sifat kesatuan dari suatu suku bangsa bukan “kelompok” melainkan “golongan”.
Konsep yang tercakup dalam istilah “suku bangsa” adalah suatu golongan manusia yang terikat oleh kesadaran dan identitas akan “kesatuan kebudayaan”, sedangkan kesadaran dan identitas tadi sering kali (tetapi tidak selalu) dikuatkan oleh kesatuan bahasa juga. Jadi, “kesatuan kebudayaan” ditentukan oleh warga kebudayaan bersangkutan itu sendiri.
Deskripsi mengenai kebudayaan suatu suku bangsa biasanya merupakan isi dari sebuah karangan etnografi. Namun karena ada suku bangsa yang besar sekali, terdiri dari berjuta-juta penduduk(seperti suku bangsa sunda), maka ahli antropologi yang membuat sebuah karangan etnografi sudah tentu tidak dapat mencakup keseluruhan dari suku bangsa besar itu dalam deskripsinya. Umumnya ia hanya melukiskan sebagian dari kebudayaan suku bangsa itu.



2.      Beragam Kebudayaan Suku Bangsa
Seorang antropolog tentu menghadapi masalah perbedaan asas dan kompleksitas dari unsur kebudayaan. Para antropolog sebaiknya membedakan kesatuan masyarakat suku-suku bangsa di dunia berdasarkan atas kriteria mata pencarian dan sistem ekonomi ke dalam enam macam (a) masyarakat pemburu dan peramu (hunting and gathering societies),  (b) masyarakat peternak (pastoral societies), (c) masyarakat peladang (societies of shifting cultivators), (d) masyarakat nelayan (fishing communities), (e) masyarakat petani pedesaan (peasant communities), dan (f) masyarakat perkotaan kompleks (complex urban societies).
Kebudayaan suku bangsa yang hidup dari berburu dan meramu (hunting and gathering societies) pada bagian terakhir abad ke-20 ini sudah hampir tidak ada lagi di muka bumi ini. Mereka kini tinggal di daerah-daerah terisolasi di daerah-daerah pinggiran atau daerah-daerah terpencil yang karena keadaan alamnya tidak suka didiami oleh bangsa-bangsa lain. Di Negara kita suku-suku bangsa yang hidup dari meramu, yaitu meramu sagu, masih ada di daerah-daerah  rawa-rawa di pantai-pantai Irian Jaya.
Kebudayaan peternak yang hidup dalam pastoral societies hingga kini masih ada di daerah-daerah padang rumput stepa atau sabana di Asia Barat Daya, Asia Tengah, Siberia, Asia Timur Laut, Afrika Timur, atau Afrika Selatan.
Kehidupan suku-suku peternak berpindah-pindah dari suatu perkemahan ke perkemahan lain dengan menggembala ternak mereka menurut musim-musim tertentu. Mereka memerah susu ternak lalu membuat menjadi mentega, keju, dan hasil olahan lain dari susu yang dapat disimpan lama. Selama berpindah-pindah mereka harus menjaga ternaknya dengan baik agar tidak di curi oleh kelompok-kelompok peternak lainnya. Jumlah ternak yang mereka miliki sering kali mencapai beratus-ratus ekor sapi atau domba. Kehidupan seperti itu menyebabkan bahwa bangsa-bangsa peternak itu sering sangat agresif sifatnya.
Para peladang di daerah tropis (pengairan sungai kongo Afrika Tengah, Asia Tenggara termasuk Indonesia(di luar jawa dan bali), dan di daerah pengairan Amazon di Amerika Selatan) mempergunakan teknik bercocok tanam yang sama. Mereka mulai dengan membersihkan belukar bawah dalam hutan, kemudian menebang pohon-pohon dan membakar daun-daun, dahan, dan balok-balok pohon yang ditebang. Di ladang yang di buka di tengah hutan secara demikian, mereka menanam berbagai macam tanaman tanpa pengolahan tanah yang intensif (hanya seperlunya saja), dan tanpa irigasi. Apabila setelah dua-tiga kali panen tanah tidak menghasilkan lagi karena kehabisan zat-zatnya, maka ladang ditinggalkan, dan mereka membuka ladang yang baru di hutan sampingnya, dengan teknik yang tetap sama.
Bercocok tanam di ladang merupakan suatu mata pencarian yang dapat juga menjadi dasar suatu peradaban yang kompleks dengan masyarakat perkotaan, sistem kenegaraan, dan seni bangunan serta pertukangan yang tinggi.
Kebudayaan nelayan yang hidup dalam fishing communities ada di seluruh dunia: di sepanjang pantai, baik dari negara-negara yang berada di pinggir benua-benua, maupun di pulau-pulau. Secara khusus desa-desa nelayan itu biasanya terletak di daerah muara-muara sungai atau di sekitar sebuah teluk.
Kebudayaan petani pedesaan, yang hidup dalam peasant communities pada masa sekarang merupakan bagian terbesar dari objek perhatian para ahli antropologi, karena suatu proporsi terbesar dari penduduk dunia masa kini memang masih merupakan petani yang hidup dalam komunitas-komunitas desa, yang berdasarkan pertanian, khususnya bercocok tanam menetap secara tradisional dengan irigasi. Hampir semua masyarakat pedesaan di Indonesia, dan khususnya di Jawa, merupakan peasant societies yang berdasarkan bercocok tanam dengan irigasi secara tradisional dan penduduk yang orientasi kebudayaannya merupakan golongan pegawai (kebudayaan priyayi) di kota-kota administratif.
Kebudayaan perkotaan yang kompleks telah menjadi objek perhatian para ahli antropologi, terutama sesudah Perang Dunia II. Pada masa itu timbul banyak negara baru bekas jajahan, dengan penduduk yang biasanya terdiri dari banyak suku bangsa, golongan bahasa, atau golongan agama, dalam wadah satu negara nasional yang merdeka.
Masalah yang berhubungan dengan gejala hubungan interaksi antarsuku bangsa di kota-kota besar dan juga beberapa masalah yang menjadi pokok perhatian antropologi spesialisasi, sebagian besar juga timbul di kota-kota, menyebabkan ada perhatian luas dari para ahli antropologi terhadap masyarakat kota, dan timbulnya subilmu antropologi spesialisasiyang disebut “antropologi perkotaan” (urban anthropology).
B.     Konsep Daerah Kebudayaan
Suatu daerah kebudayaan adalah suatu daerah pada peta dunia yang oleh para ahli antropologi disatukan berdasarkan persamaan unsur-unsur atau ciri-ciri kebudayaan yang mencolok. Dengan pengolongan seperti itu, berbagai suku bangsa yang tersebar di suatu daerah di muka bumi diklasifikasikan berdasarkan unsur-unsur kebudayaan yang menunjukkan persamaaan, untuk memudahkan para ahli antropologi melakukan penelitian analisa komparatif.
Ciri-ciri kebudayaan yang dijadikan dasar dari suatu pengolongan daerah kebudayaan bukan hanya unsur-unsur kebudayaan fisik saja (misalnya alat-alat yang digunakan berbagai jenis mata pencaharian hidup, yaitu alat bercocok tanam, alat berburu, dan alat transportasi, senjata, bentuk-bentuk ornamen, gaya pakaian, bentuk rumah, dsb), tetapi juga unsur-unsur kebudayaan abstrak seperti unsur-unsur organisasi kemasyarakatan, system perekonomian, upacara keagamaan, adat istiadat dll. Persamaan ciri-ciri mencolok dalam suatu daerah kebudayaan biasanya hadir lebih kuat pada kebudayaan-kebudayaan yang menjadi pusat pada kebudayaan yang bersangkutan, dan makin tipis didalam kebudayaan-kebudayaan yang jaraknya makin jauh dari pusat tersebut.

C.    Daerah-daerah Kebudayaan di Amerika Utara
Kesembilan daerah kebudayaan di Amerika Utara menurut klasifikasi Clark Wissler adalah:
1.      Daerah kebudayaan Eskimo
2.      Daerah kebudayaan Yukon-Mackenzie
3.      Daerah kebudayaan pantai barat laut
4.      Daerah kebudayaan dataran tinggi
5.      Daerah kebudayaan Plains
6.      Daerah kebudayaan hutan timur
7.      Daerah kebudayaan Dataran California (California Great Basin)
8.      Daerah kebudayaan barat daya
9.      Daerah kebudayaan tenggara
10.  Daerah kebudayaan Meksiko






D.    Daerah-daerah Kebudayaan di Amerika Latin
1.      Sistem Penggolongan Daerah-daerah Kebudayaan di Amerika Latin
Benua Amerika Selatan dan Amerika Tengah pertama-tama dibagi ke dalam daerah-daerah kebudayaan Amerika Latin oleh J.M. Cooper. Sistem itu membedakan adanya empat tipe kebudayaan di Amerika Latin, yaitu: (1) Circum Caribbean Cultures; (2) Andean Civilization; (3) Tropical Forest Cultures; (4) dan Marginal Cultures.
Suatu sistem pembagian daerah-daeerah kebudayaan yang lebih detail dibuat oleh G.P. Murdock, yang membagi seluruh benua ke dalam 24 culture areas.
Dalam buku J.H. Steward dan L.C. Faron berjudul Native Peoples of South America (1959) yang merupakan suatu ikhtisar dari seluruh bahan yang tercantum dalam Handbook of the South American Indians, pada dasarnya masih juga di pakai sistem klasifikasi Cooper, tetapi dengan beberapa perbaikan menjadi lima tipe, yaitu: (1) Cultures with Theocratic and Militaristic Chiefdoms; (2) Andean Cultures; (3) Southern Andean Cultures; (4) Tropical Forest Cultures; dan (5) Cultures of Nomadic Hunters and Gatheres.
2.   Daerah-daerah Kebudayaan di Amerika Latin
a. Daerah kebudayaan Cacique meliputi kebudayaan-kebudayaan yang dulu maupun sekarang tersebar di Kepulauan Karibia, di Negara-negara Venezuela dan Columbia bagian utara, di Equador dan Bolivia bagian timur.
b. Daerah kebudayaan Andes meliputi daerah dari kebudayaan zaman Pre-Inca, zaman kejayaan Negara Inca di pegunungan Andes, dan suku-suku bangsa rakyat Indian dalam zaman setelah runtuhnya Negara Inca di Negara Peru dan Bolivia bagian barat.
c.  Daerah kebudayaan Andes Selatan meliputi kebudayaan suku-suku bangsa yang hidup di bagian utara Negara Chili dan Argentina.
d. Daerah kebudayaan rimba tropis meliputi kebudayaan suku-suku bangsa di perairan sungai Amazon dan anak-anak sungainya, serta di bagian besar dari Negara Brazil.
e.  Daerah kebudayaan berburu dan meramu adalah daerah yang dulu oleh Cooper disebut Marginal culture Area, dan meliputi kebudayaan suku-suku bangsa yang tidak mengenal bercocok tanam.


E.     Sub-sub Kawasan Geografi di Oceania
Kebudayaan-kebudayaan dari penduduk kepulauan di Lautan Teduh dalam keseluruhan belum pernah dibagi ke dalam culture areas oleh para ahli antropologi, dan memang lebih mudah untuk menggolongkan beragam kebudayaan yang tersebar di beratus-ratus kepulauan di kawasan itu menurut empat subkawasan geografis, yaitu: kebudayaan penduduk asli Australia, Irian dan Melanesia, Mikronesia, dan Polinesia. Walaupun pembagian itu merupakan suatu pembagian yang terutama berdasarkan ciri-ciri geografi, namun tampak juga perbedaan secara umum mengenai ciri-ciri antropologi fisik, bahasa, sistem kemasyarakatan, dan kebudayaan dari penduduk yang mendiami masing-masing empat subkawasan dari oseania itu.

F.     Daerah-daerah kebudayaan di Afrika
Berikut ini kedelapanbelas Kombinasi pembagian daerah kebudayaan Afrika :
1.             Daerah kebudayaan Afrika Utara
2.             Daerah kebudayaan Hilir Nil
3.             Daerah kebudayaan Sahara
4.             Daerah kebudayaan Sudan Barat
5.             Daerah kebudayaan Sudan Timur
6.             Daerah kebudayaan Hulu Tengah Nil
7.             Daerah kebudayaan Afrika Tengah
8.             Daerah kebudayaan Hulu Selatan Nil
9.             Daerah kebudayaan Tanduk Afrika
10.         Daerah kebudayaan Pantai Guinea
11.         Daerah kebudayaan ”Bantu” Khatulistiwa
12.         Daerah kebudayaan “Bantu” Danau-danau
13.         Daerah kebudayaan “Bantu” Timur
14.         Daerah kebudayaan “Bantu” Tengah
15.         Daerah kebudayaan “Bantu” Barat Daya
16.         Daerah kebudayaan “Bantu” Tenggara
17.         Daerah kebudayaan Choisan
18.         Daerah kebudayaan Madagaskar







G.    Daerah-daerah kebudayaan di Asia
1.      Daerah Kebudayaan Asia Tenggara
2.      Daerah Kebudayaan Asia Selatan
3.      Daerah Kebudayaan Asia Barat Daya
4.      Daerah Kebudayaan Cina
5.      Daerah Kebudayaan Stepa Asia Tengah
6.      Daerah Kebudayaan Siberia
7.      Daerah Kebudayaan Asia Timur Laut

H.    Suku-suku Bangsa di Indonesia
Klasifikasi dari berbagai suku bangsa di wilayah Indonesia biasanya masih berdasarkan sistem lingkaran-lingkaran hukum adat, yaitu:
1.    Aceh
2.    Gayo-Alas dan Batak,    2a. Nias dan Batu
3.    Minangkabau,                 3a. Mentawai
4.    Sumatera Selatan,           4a. Enggano
5.    Melayu
6.    Bangka dan Belitong
7.    Kalimantan
8.    (8.a) Sangir-Talaud
9.    Gorontalo
10.   Toraja
11.   Sulawesi selatan
12.   Ternate
13.   Ambon Maluku,                         13a. kepulauan Barat Daya
14.   Irian
15.   Timor
16.   Bali dan Lombok
17.   Jawa Tengah dan Timur
18.   Surakarta dan Yogyakarta
19.   Jawa Barat









I.       Ras, Bahasa dan Kebudayaan
              Sejumlah manusia yang memiliki ciri-ciri ras tertentu yang sama, belum tentu mempunyai bahasa induk yang termasuk satu rumpun bahasa, apalagi mempunyai satu kebudayaan yang tergolong satu daerah kebudayaan. Misalnya ada beberapa orang Thai, beberapa orang Khmer, dan beberapa orang sunda. Ketiga golongan itu mempunyai ciri-ciri ras yang sama, yang dalam ilmu antropologi fisik sering kali disebut ciri-ciri ras Paleo-Mongoloid. Namun bahasa induk masing-masing orang tadi termasuk keluarga bahasa yang sangat berlainan. Bahasa Thai termasuk keluarga bahasa Sino-Tibetan; bahasa Khmer termasuk keluarga bahasa Austro-Asia, dan bahasa sunda termasuk keluarga bahasa Austronesia. Demikian pula kebudayaan ketiga gabungan orang-orang itu berlainan satu dengan yang lain. Kebudayaan Thai dan Khmer terpengaruh oleh agama Buddha Theravada, tetapi kebudayaan sunda terpengaruh oleh agama Islam.
              Dalam zaman sekarang ini, komunikasi antara manusia dan mobilitas manusia di seluruh penjuru muka bumi kita ini makin meluas, maka pembauran antara manusia dari beragam ras, beragam bahasa, dan beragam kebudayaan juga menjadi makin intensif. Walaupun demikian, untuk keperluan analisis antropologi secara histori kita perlu mengetahui pola-pola penyebaran yang asli dari beragam ras, bahasa, dan kebudayaan di muka bumi.











BAB III
KESIMPULAN
      Bahwa dalam aneka ragam kebudayaan dan masyarakat terdapat konsep suku bangsa yang terdiri dari suku bangsa dan beragam kebudayaannya, konsep daerah kebudayaan yang mengklasifikasikan beragam suku bangsa berdasarkan persamaan unsur kebudayaannya, daerah kebudayaan di Amerika Utara yang diklasifikasikan menjadi Sembilan daerah kebudayaan menurut Clark Wissler, daerah kebudayaan Amerika Latin tentang sistem penggolongan daerah kebudayaan dan daerah kebudayaannya, empat sub kawasan geografi dari oceania, delapanbelas daerah kebudayaan di Afrika, tujuh daerah kebudayaan di Asia, sembilanbelas suku bangsa di Indonesia, ras, bahasa, dan kebudayaan.


PENUTUP
      Demikian makalah ini kami buat, semoga apa yang telah kami uraikan dalam makalah ini terutama dalam aneka ragam kebudayaan dan masyarakat dapat bermanfaat bagi kami dan para pembaca. Dan tidak lupa apabila ada kesalahan baik itu dalam penulisan ataupun dalam penguraiannya kami mohon maaf yang sebesar-besarnya.










DAFTAR PUSTAKA
Koentjaraningrat. 2009. “Pengantar Ilmu Antropologi”. Jakarta : Rineka Cipta.
http://id.m.wikipedia.org/wiki/Budaya
http://elib.unikom.ac.id/download.php?id=103850




















Tidak ada komentar:

Poskan Komentar